KEBIJAKAN E-LEARNING TERHADAP PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK MTS NEGERI 2 KOTA CIREBON
KEBIJAKAN E-LEARNING TERHADAP
PRESTASI BELAJAR PESERTA DIDIK MTS NEGERI 2 KOTA CIREBON
Kelompok
5
MPI-D
Akhmad Faisal
Hamzah, Akhmad Syaekhon, Desi Susilawati, Lutfi Kamaludin, Riska
Zetiara Yanti, dan Roni Baskoro
E-mail :
riskazetiara24@gmail.com
Institute Agama
Islam Negeri Syekh Nurjati Cirebon
Abstract
The Covid-19 pandemic has limited us
from meeting many people. so that it has an impact on all fields, one of which
is in the field of education. Where learning activities are no longer
face-to-face, but with the E-Learning method. The development of Science and
Technology (IPTEK) is very helpful in providing solutions so that students can
learn even though not face to face. MTs Negeri 2 Kota Cirebon is one of the
schools implementing the E-learning method during the current pandemic. This
qualitative research uses observation and interview methods. This study aims to
determine whether the E-learning policy can increase the learning achievement
of students or not.
Keywords:
E-learning policy, Student Learning Achievement.
Abstrak
Pandemi
Covid-19 membatasi kita untuk bertemu dengan banyak orang. hingga memberikan
dampak terhadap seluruh bidang, salah
satunya pada bidang pendidikan. Dimana kegiatan pembelajaran tidak lagi melalui
tatap muka, melainkan dengan metode E-Learning. Perkembangan Ilmu Pengetahuan
dan Teknologi (IPTEK) sangatlah membantu memberikan solusi agar peserta didik
dapat melakukan pembelajaran walaupun tidak dengan tatap muka. MTs Negeri 2
Kota Cirebon merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan metode E-learning
pada masa pandemi saat ini. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode
observasi dan wawancara. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah
kebijakan E-learning dapat meninggkatkan prestasi belajar dari peserta didik
atau tidak.
Kata kunci: Kebijakan E-learning, Prestasi Belajar
Peserta Didik.
A.
Pendahuluan
Perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK) telah membawa perubahan yang
sangat pesat di dalam aspek kehidupan manusia ini, perkembangan tersebut telah mengubah
paradigma manusia dalam mencari dan mendapat informasi yang semakin mudah.
pekerjaan yang semula dilakukan manusia secara manual kini dapat digantikan
dengan mesin (Hartono, 2012:1). hal ini
menuntut kita untuk berpikir lebih maju dalam melakukan segala hal agar tidak
dianggap tertinggal. Salah satu bidang dalam perkembangan IPTEK adalah
pendidikan. Pendidikan adalah proses komunikasi dan informasi antara guru
kepada siswa media untuk menjadi sarana penyajian ide gagasan dan materi
pembelajaran pendidikan bagi siswa itu sendiri.
Tingkat pendidikan sekolah menengah adalah
pendidikan menengah dimana anak mulai melanjutkan pendidikan yang sebenarnya,
tidak seperti di taman kanak-kanak yang melakukan pembelajaran cenderung berisi
permainan. Pada tingkat pendidikan sekolah menengah ini anak mulai mengenal berbagai macam
pengetahuan sikap dan keterampilan. Anak mulai berlomba-lomba untuk belajar
lebih serius dan tekun untuk membuktikan prestasi belajar mereka. Dikarenakan adanya pandemi Covid-19 membatasi kita untuk bertemu
dengan banyak orang. Sehingga memberikan dampak terhadap seluruh bidang, salah satunya pada bidang pendidikan. Dimana
kegiatan pembelajaran tidak lagi melalui tatap muka, melainkan dengan metode
E-Learning. Pembelajaran e-learning sudah
dilakukan pada bulan Maret sampai sekarang. Hal tersebut berkaitan dengan kebijakan
pemerintah untuk belajar dilakukan dengan E-learning.
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan
penelitian itu tentang : media pembelajaran, keaktifan peserta didik, pembahasan
peserta didik saat pembelajaran dan nilai dari peserta didik meningkatkan atau
tidak. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui kebijakan e-learning terhadap prestasi belajar bisa meningkatkan
prestasi atau tidak di MTS negeri 2 kota Cirebon.
E-learning adalah istilah baru dari
sebuah metode dan media belajar terdapat beberapa pendapat tentang E-learning
yaitu proses belajar dan fasilitasi dengan dukungan melalui pemanfaatan TIK
(Jenknis and Hanson) Center : 2003).
learning ialah proses belajar secara efektif yang menghasilkan dengan
cara menggabungkan penyampaian materi secara digital yang terdiri dari dukungan
dan layanan dalam pembelajaran ( Waller : 2001). E-learning ialah penggunaan
teknologi internet untuk melakukan pengiriman dengan serangkaian solusi yang
dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuan (Rosenberg : 2001). E-learning
merupakan internet learning dengan
metode pengajaran dan teknologi sebagai sarana dalam belajar.
Madrasah Tsanawiyah sebagian besar
materi pembelajaran disampaikan secara konvensional sehingga materi terlihat
kurang menarik. Ketika terlihat lebih menarik dan memotivasi siswa
untuk belajar dilakukan sebuah inovasi pembelajaran maka dari itu dibutuhkan
media yang lebih menarik untuk digunakan guru dalam proses pembelajaran E-learning
ini.
Dikutip dari (prawirdilaga, 2013:19)
secara khusus menyebutkan media pembelajaran digunakan melalui tujuan :
memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga merangsang minat
semua siswa untuk belajar, menumbuhkan sikap dan keterampilan dalam bidang
teknologi, menjadikan situasi belajar yang menyenangkan.
Seiring dengan perkembangan globalisasi
dunia mengalami perubahan teknologi menuju pada kemajuan zaman di mana
diciptakan teknologi yang untuk memudahkan kegiatan manusia khususnya dalam
bidang pendidikan seperti media pembelajaran yang semakin menarik sesuai
perkembangan zaman seperti yang dikatakan( sutedjo 2002. 119).
Keefektifan pembelajaran merupakan
tingkat keberhasilan di dalam pencapaian tujuan pembelajaran efektif dari
penggunaan e-learning dapat dilihat dari hasil belajar jika hasil pembelajaran
yang akan digunakan e-learning yang
lebih tinggi dari pembelajaran yang tidak menggunakan ironing maka pengguna
internet dikatakan efektif.
Menerut (sudjana 2004) Prestasi belajar
akan terlihat setelah diberikan perlakuan pada proses. Hasil belajar merupakan
keberhasilan siswa dalam mempelajari materi di sekolah dalam bentuk nilai atau skor
yang diperoleh dalam tes mengenai sejumlah materi. prestasi belajar ialah berbagai
kapasitas yang akan memperoleh siswa yang berhubungan dengan ikut sertaan dalam
proses pembelajaran . prestasi pembelajaran ialah pencapaian tujuan pengajaran
dan prestasi belajar adalah puncak pembelajaran siswa.
B.
Metode
penelitian
Penelitian ini dilakukan menggunakan
metode kualitatif eksploratif dengan pendekatan induktif. Menurut (Arikunto
2006: 7) penelitian eksploratif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggali
secara lebih luas mengenai sebab-sebab atau hal-hal yang sangat mempengaruhi terjadinya
sesuatu. Metode ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kebijakan E-learning
terhadap prestasi belajar peserta didik di MTs Negeri 2 Kota Cirebon. Penentuan
tempat penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa, lokasi penelitian dekat
dengan tempat tinggal peneliti, terdapat orang yang dikenal sehingga memudahkan
untuk mendapatkan informasi, dan
pertimbangan lainnya adalah sekolah tersebut telah menerapkan kebijakan
E-learning pada masa pandemi saat ini.
Pada penelitian kualitatif tidak
menggunakan istilah populasi tetapi spradley di dalam (Sugiyono, 2007: 49)
diberi nama sosial situation atau situasi sosial yang terdiri dari tiga elemen
itu seperti tempat, pelaku dan aktivitas. Pada situasi ini penelitian dapat
mengamati secara mendalam aktivitas orang yang ada pada tempat tersebut serta
di penelitian induktif menurut (tim dosen upi 2015 : 151) ialah pendekatan
untuk menekankan proses berpikir yang diutamakan suatu masalah, pengumpulan
data hipotesis analisis data dan kesimpulan (pemecah masalah). dalam penelitian ini, responden yang berkaitan
yaitu wali kelas dari kelas IX MTs
Negeri 2 Kota Cirebon.
C.
Pembahasan
Saat ini dunia digegerkan oleh suatu
wabah yaitu Virus Corona atau Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Pemerintah
Indonesia telah mengambil sejumlah kebijakan untuk memutuskan rantai penularan
Covid-19. Kebijakan utamanya ialah memprioritaskan kesehatan dan keselamatan
rakyat. Dengan demikian, seluruh rakyat dihimbau agar beribadah, bekerja, dan
belajar dari rumah.
Pandemi Covid-19 membawa dampak negatif
bagi hampir seluruh sendi kehidupan. Tidak terkecuali bidang pendidikan.
Kebijakan terkait kegiatan belajar mengajar pun mulai disesuaikan. kegiatan
belajar mengajar yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka menjadi E-learning.
Kata E-learning memiliki pengertian yang sangat luas, sehingga banyak pakar
yang menguraikan mengenai definisi E-learning dari berbagai sudut pandang.
Salah satu definisi yang cukup dapat diterima banyak pihak misalnya dari Darin
E. Hartley dikutip oleh (Sardiman : 2001) yang menyatakan: “E-learning
merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan
ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan
komputer lain."
MTs Negeri 2 Kota Cirebon merupakan
salah satu sekolah yang menerapkan keijakan E-learning dalam pelaksanaan
pembelajaran. Keijakan E-learning berakibat pada perubahan budaya belajar dalam
konteks pembelajarannya. Setidaknya ada empat komponen penting dalam membangun
budaya belajar dengan menggunakan model E-learning di MTs Negeri 2 Kota Cirebon.
Pertama, siswa dituntut untuk mandiri saat belajar dengan berbagai pendekatan
yang sesuai agar siswa mampu memotivasi, mengarahkan, mengatur dirinya sendiri
saat pembelajaran. Kedua, guru mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan,
memfasilitasi dalam pembelajaran, memahami belajar dan hal-hal yang dibutuhkan
dalam pembelajaran. Ketiga tersedianya infrastruktur yang memadai dan yang ke
empat administrator yang kreatif serta penyiapan infrastrukur dalam
memfasilitasi pembelejaran (Edi Santoso : 2009).
Berbagai upaya yang dilakukan pihak
sekolah untuk memudahkan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Misalnya,
dengan membagikan subsidi kuota kepada peserta didik untuk pelaksanaan pembelajaran
pada saat E-learning. bagi peserta didik yang tidak memiliki handphone dapat
menggunakan fasilitas laboratorium komputer yang terdapat di sekolah. Serta,
pihak sekolah pun telah menyediakan wifi yang dapat dimanfaatkan oleh peserta
didik.
Media pembelajaran menurut Henich
seperti yang dikutip oleh (Aristo, 2003 : 23), klasifikasi media yang lebih
sederhana adalah : media yang tidak diproyeksikan, media yang diproyeksikan,
Media audio, media video, media berbasis komputer, dan multimedia kit. Tujuan
adanya media pembelajaran ialah agar peserta didik lebih mudah memahami
pelajaran. Media pembelajaran yang
digunakan di MTs Negeri 2 Kota Cirebon ialah : Website Sekolah, Whatsapp, Zoom,
E-Book dan Video Youtube. Berbagai media pembelajaran tersebut digunakan secara
bergantian dan disesuaikan dengan materi pembelajaran yang ingin disampaikan
oleh guru.
Jika dilihat dari keaktifan peserta
didik dalam mengikuti pembelajaran, dengan metode E-learning peserta didik
lebih pasif dalam merespon pada saat pembelajaran. Sebaliknya, pada saat
kegiatan pembelajaran dilakukan tatap muka peserta didik lebih aktif dalam
merespon pada saat pembelajaran. Hal ini terjadi karena berkurangnya pengawasan
dari guru untuk membimbing peserta didik dalam belajar, kurangnya motivasi belajar
dari peserta didik itu sendiri, kurangnya pantauan orang tua terhadap anak,
kondisi rumah peserta didik yang jauh dari jangkauan internet dan peserta didik
yang belum mempunyai gadget karna keterbatasan dana orang tua.
Motivasi belajar peserta didik dapat
berpengaruh terhadap pemahaman materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.
Ketika peserta didik memiliki motivasi yang tinggi, maka akan semakin giat
untuk belajar. Begitupun sebaliknya, jika peserta didik tidak memiliki motivasi
belajar, maka tidak ada keinginan untuk belajar. Dengan begitu, pemahaman
terhadap pelajaran akan berkurang. Hal inilah yang terjadi pada saat penerapan
metode E-learning saat ini. Dimana peserta didik kehilangan motivasi
belajarnya, sehingga mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran.
Dalam dunia pendidikan mengenal istilah
input, proses dan outpun. Ketiga hal tersebut berkaitan satu sama lain. Input
ialah ketika penerimaan peserta didik, proses ialah kegiatan yang terjadi di
sekolah seperti kegiatan pembelajaran, sedangkan Output adalah hasil dari
proses yang telah dilakukan. Kegiatan pembelajaran yang dilakukan antar guru
dan siswa akan sangat mempengaruhi pemahaman dari peserta didik. Hasil dari
wawancara kami, banyak dari peserta didik yang mengalami penghambatan dalam memahami
materi pelajaran. Untuk melihat kemampuan dari peserta didik dalam memahami
materi pelajaran, maka guru membuat latikan. Ketika mengoreksi hasil kerja dari
peserta didik, hasil kerja dari peserta didik pun cukup mengejutkan. Dimana
hampir seluruh peserta didik mendapatkan nilai yang sempurna. Setelah diteliti,
pada saat mengisi latihan soal yang diberikan oleh guru, peserta didik mengeksplor dirinya untuk
mencari jawaban dengan memanfaatkan teknologi yang ada. Salah satunya dengan melakukan
pencarian melalui Google. Hal ini dapat memberikan pengaruh positif karena
keingintahuan dari peserta didik akan lebih meningkat untuk mempelajari
pelajaran tersebut. Dengan demikian materi tersebut akan mudah untuk diingat
oleh peserta didik dan secara tidak langsung dengan latihan tersebut dapat
membuatnya faham terhadapat materi pelajaran.
D.
Kesimpulan
Kebijakan E-learning memiliki kelebihan
dan kekurangan. Dilihat dari kelebihannya yaitu pelaksanaan pembelajaran lebih
mudah, fleksibel, dan tak terikat ruang dan waktu. Adapun kelemahannya yaitu siswa
dan guru belum siap untuk melakukan kebiakan E-learning. sehingga
pelaksanaannya kurang maksimal, ada beberapa hal yang harus ditingkatkan
seperti:: memotivasi peserta didik dengan memberi spirit dan semangat belajar dalam
hal memahami materi yang di berikan atau tugas yang sedang di kerjakan.
Makadari itu seorang guru harus mampu dan ahli dalam menstimulusasi dan melihat kondisi dan situasi bagaimana metode
e-learning ini bisa semaksimal dan seefektiv mungkin dalam meningkatkan prestasi
belajar atau pencapaian dimana metode
e-learning ini bisa di aplikasikan
dengan presisi di masa pendemi ini,
melalui kebijakan-kebijakan yang mendukung dalam hal meningkatnya
prestasi siswa dalam system e-learning seperti subsidi kouta internet, atau di
gunakanya labolatorium Komputer bagi siswa yang tidak memliki handpone dan
kebijakan yang lainya.
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dan hasil
wawancara, peneliti melihat bahwa kebijakan E-learning dapat meningkatkan
pretasi belajar peserta didik. Peningkatan prestasi belajar peserta didik ini
dapat dilihat dari nilai yang diperoleh oleh peserta didik dalam mengerjakan
tugas latihan dari guru. Jika dibandingkan dengan tatap muka, nilai yang
diperoleh peserta didik lebih bagus pada saat E-learning. Tidak dapat
dipungkiri bahwa kebijakan E-learning ini memang mengutamakan kemandirian
peserta didik untuk mencari dan memahami materi pelajaran. Dengan kemandirian
tersebut, materi yang sedang dipelajari dapat mudah ia mengerti dibandingkan
hanya mengandalkan penjelasan dari guru. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi pun ikut serta dalam perkembangan peserta didik. Dimana, peserta
didik dapat memanfaatkan Google dan program lainnya untuk mencari berbagai
pengetahuan yang ia butuhkan.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. 2006. Metode Penelitian
Kualitatif. Jakarta: Bumi Aksara.
Aristo, Rahadi. 2003,Media Pembelajaran.
Jakarta : Departemen PendidikanNasional.
Edi Santoso, Pengaruh Pembelajaran Online Terhadapprestasi Belajar Kimia Ditinjau
Darikemampuan Awal Siswa. 2009.
Jenkins, M. & Hanson, J. (2003).
E-learning Series: A Guide for Senior Managers, Learning and Teaching Support
Network (LSTN) Generic Centre, United Kingdom.
Jogiyanto Hartono.2012. Teori Portofolio
dan Analisis Investasi,Edisi Kedelapan,BPFE,Yogyakarta.
Oetomo, Budi Sutedjo Dharma. 2002.
Perencanaan dan Pengembangan Sistem Informasi. Edisi I. ANDI Yogyakarta.
Prawiradilaga, Dewi Salma. 2013. Prinsip
Disain Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Rosenberg, Marc. J. (2001). E-Learning :
Strategies For Delivering Knowledge In The Digital Age. USA : McGraw-Hill
Companies.
Sardiman, A.M. 2001. lnteraksi dan Motivasi Pembelajaran.
Jakarta : P.T. Raja Grafindo Persada.
Sudjana, Nana. 2004. Dasar-dasar Proses
BelajarMengajar. Bandung :SinarBaruAlgensido Offset.
Sugiyono. 2007. MetodePenelitian
Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Tim Dosen JPTM FPTK UPI. (2015).
Supelmen Pedoman Penulisan SkripsiPendidikan. Bandung: Universitas Pendidikan
Indonesia.
Waller, Vaughan and Wilson, Jim. (2001).
A Definition for E-Learning” in Newsletter of Open and Distance Learning
Quality Control. Tersedia : http://www.odlqc.org.uk/odlqc/n19-e.html [November
2020].
Komentar
Posting Komentar